
PURWOKERTO — Sistem kerja dari rumah atau Work From Home (WFH) acapkali dipandang sebagai batu sandungan bagi produktivitas instansi pemerintahan. Namun, stigma tersebut berhasil ditepis dengan tegas oleh jajaran Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Purwokerto. Menutup pekan di penghujung bulan, tepatnya pada Jumat (29/5), Bapas Purwokerto menggelar agenda "Jumat Produktif" yang diisi dengan Rapat Evaluasi Mandiri Kesiapan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) sekaligus Penyelesaian Laporan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Terintegrasi (SPIPT) secara virtual.
Kegiatan yang dilangsungkan sejak pagi hari ini dihadiri oleh seluruh jajaran struktural maupun fungsional Bapas Purwokerto. Melalui platform konferensi video, ruang tatap muka digital tersebut berubah menjadi wadah konsolidasi yang intens. Berbagai dokumen kelengkapan, inovasi pelayanan, hingga pemenuhan data dukung (daduk) ditelaah satu per satu demi memastikan instansi tersebut layak melenggang menuju predikat WBBM tahun ini. WFH Sebagai Ujian Integritas dan Komitmen Kepala Bapas Purwokerto, Nasirudin, yang memimpin langsung jalannya rapat tersebut, memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh pegawainya. Dalam arahannya, ia menekankan bahwa ruang dan jarak tidak boleh mendegradasi kualitas pelayanan dan target kinerja yang telah dicanangkan. "WFH bukan berarti kita mengendurkan semangat atau bersantai. Justru, ini adalah ujian integritas dan komitmen nyata kita dalam mewujudkan reformasi birokrasi. Target kita di tahun 2026 ini sangat jelas: meraih predikat WBBM. Hal itu membutuhkan kerja keras, sinergi, dan evaluasi yang tanpa henti, tidak peduli dari mana pun kita bekerja," tegas Nasirudin. Lebih lanjut, Nasirudin menyoroti beberapa inovasi layanan publik unggulan Bapas Purwokerto yang harus terus disosialisasikan dan diimplementasikan agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh Klien Pemasyarakatan dan masyarakat luas. Ia meminta setiap Kelompok Kerja (Pokja) untuk memastikan tidak ada celah minor pada lembar kerja evaluasi. Krusialnya SPIPT dalam Akuntabilitas Kinerja Selain membahas kesiapan WBBM, agenda "Jumat Produktif" ini juga difokuskan pada penyelesaian draf akhir Laporan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Terintegrasi (SPIPT). Laporan ini merupakan instrumen vital untuk mengukur efektivitas pengendalian internal instansi dalam mencegah terjadinya penyimpangan serta memastikan efisiensi anggaran. Kepala Urusan Tata Usaha (Kaur TU) Bapas Purwokerto, Dewi Umbarawati, memaparkan secara detail progres kelengkapan administrasi SPIPT. Ia menggarisbawahi pentingnya ketelitian dalam menyusun laporan yang merepresentasikan akuntabilitas Bapas Purwokerto secara keseluruhan. "Laporan SPIPT ini sangat krusial sebagai bentuk pertanggungjawaban, transparansi kinerja, sekaligus fondasi tata kelola pemerintahan yang baik. Meskipun kita terhalang jarak dan rapat harus dilakukan secara daring, saya bersyukur koordinasi antar-seksi dan sub-seksi berjalan dengan sangat efektif. Target kita, penyelesaian laporan SPIPT bulan ini bisa rampung seratus persen hari ini juga, sehingga bisa segera di-submit ke pusat tanpa ada keterlambatan," jelas Dewi Umbarawati. Sinergi Tanpa Batas Ruang Rapat evaluasi yang berlangsung selama kurang lebih satu jam tersebut diwarnai dengan diskusi interaktif. Masing-masing ketua Pokja WBBM mempresentasikan capaian serta kendala yang dihadapi, untuk kemudian dicarikan solusi bersama. Penggunaan teknologi berbasis cloud dan pembagian tugas digital terbukti membuat alur kerja WFH Bapas Purwokerto berjalan mulus. Kegiatan "Jumat Produktif" ini menjadi bukti empiris bahwa budaya birokrasi yang adaptif telah mengakar di Bapas Purwokerto. Kesigapan dalam memanfaatkan teknologi informasi, dipadukan dengan kepemimpinan yang solid, membuat instansi ini optimis mampu memboyong predikat WBBM dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) pada akhir tahun nanti.

29/5/2026

29/5/2026

29/5/2026
Tim kami siap membantu memberikan informasi terkait layanan pembimbingan.
Hubungi Layanan Pengaduan